Selama 20 tahun, bidang ilmuwan yang bekerja dengan Conversation International telah menjelajahi beberapa ekosistem paling banyak, misterius dan terancam di dunia tropis. Selama 20 tahun, bidang ilmuwan yang bekerja dengan Conversation International telah menjelajahi beberapa ekosistem paling banyak, misterius dan terancam di dunia tropis. Sampai saat ini, mereka telah menemukan lebih dari 1.300 spesies baru bagi ilmu pengetahuan meskipun sejauh ini hanya 500 atau lebih telah secara resmi digambarkan oleh taksonomis, dalam hal klasifikasi dan penamaan. Dan sekarang, untuk merayakan 20 tahun, kelompok ini telah merilis 20 dari temuan favorit mereka. Sementara beberapa seperti ikan yang berkedip dan indah warna nya, membuat pemandangan yang bagus, yang lain lebih besar kemungkinan untuk terkenal, seperti kalajengking raksasa biru, atau semut yang menghubungkan pada satu sama lain taringnya ketika mereka terancam.

Spesies Baru yang Mengguncang Dunia Ilmu Pengetahuan

Dan paling menarik perhatian adalah arachnophobes, ambil napas dalam-dalam, karena ini adalah apa yang dianggap sebagai tarantula terbesar diketahui pernah ada, dan makanan tarantula ini adalah kadal. Laba-laba raksasa Goliath (theraphosa blondi) dan laba-laba terbesar (massa) di dunia, mencapai berat 170gr dan rentang kaki 30 cm. Unik Baca

Hal ini diamati oleh ilmuwan Conservation International Program di Guyana pada tahun 2006, di mana ia tinggal di liang di lantai hutan hujan dataran rendah. Tak seperti namanya, ia makan terutama hewan invertebrata, tetapi telah diamati dia makan mamalia kecil, kadal dan bahkan ular berbisa sekalipun. Unik Baca

Mereka memiliki taring yang berbisa, yang tidak mematikan bagi manusia, tetapi jalur utama pertahanan mereka adalah bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuh mereka, ketika mereka terancam menggosok kaki mereka dengan perut dan mengirim awan duri mikroskopis yang bersarang pada selaput kulit dan lendir korbannya, menyebabkan nyeri dan iritasi lama.

Oleh: and1wijaya | November 30, 2013

Agama bangsa arab (Serial Siroh Nabawiyah 3)

Mayoritas Bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail ‘alaihissalam dan menganut agama yang dibawanya. Beliau meneruskan dakwah ayahnya, Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu menyembah Allah dan mentauhidkanNya. Untuk beberapa lama mereka akhirnya mulai lupa banyak hal tentang apa yang pernah diajarkan kepada mereka. Sekalipun begitu, tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim masih tersisa pada mereka, hingga munculnya Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal suka berbuat kebajikan, bershadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani. Kemudian dia mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di dalam ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengiktui penduduk Mekkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.

Berhala yang paling dahulu mereka sembah adalah Manat, yang ditempatkan di Musyallal di tepi laut Merah dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat Lata di Thaif dan Uzza di lembah kurma (wadi nakhlah). Ketiga berhala tersebut merupakan yang paling besarnya. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz. Dikisahkan bahwa Amru bin Luhai mempunyai pembantu dari jenis jin. Jin ini memberitahukan kepadanya bahwa berhala-berhala kaum Nuh (Wud, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) terpendam di Jeddah. Maka dia datang ke sana untuk mencari keberadaannya, lalu membawanya ke Tihamah. Setelah tiba musim haji, dia menyerahkan berhala-berhala itu kepada berbagai kabilah. Mereka membawa pulang berhala-berhala itu ke tempat mereka masing-masing. Sehingga di setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka juga memajang berbagai macam berhala dan patung di al-Masjidil Haram . Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Mekkah, di sekitar Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Beliau menghancurkan berhala-berhala itu hingga runtuh semua, lalu memerintahkan agar berhala-berhala tersebut dikeluarkan dari masjid dan dibakar.

Begitulah kisah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi fenomena terbesar dari agama orang-orang Jahiliyyah, yang menganggap dirinya masih menganut agama Ibrahim.

Mereka juga mempunyai beberapa tradisi dan upacara penyembahan berhala, yang hampir semuanya dibuat oleh Amru bin Luhai. Sementara orang-orang mengira apa yang dibuat Amru tersebut adalah sesuatu yang baru dan baik serta tidak merubah agama Ibrahim. Diantara upacara penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah :

Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit di hadapannya, meminta pertolongan tatkala menghadapi kesulitan, berdoa untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafa’at di sisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.

Mereka menunaikan haji dan thawaf di sekeliling berhala, merunduk dan sujud di hadapannya.

Mereka bertaqarrub kepada berhala mereka dengan berbagai bentuk taqarrub/ibadah; mereka menyembelih dan berkorban untuknya dan dengan namanya.

Dua jenis penyembelihan ini telah disebutkan Allah di dalam firmanNya :

“…Dan apa yang disembelih untuk berhala….” (al-Maidah: 3)

“Dan jagnanlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya”. (Al-An’am: 121).

Jenis taqarrub yang lain, mereka mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih untuk disajikan kepada berhala, dan juga mengkhususkan bagian tertentu dari hasil panen dan binatang ternak mereka. Diantara hal yang amat aneh adalah perbuatan mereka mengkhususkan bagian yang lain untuk Allah. Banyak sebab-sebab yang mereka jadikan alasan kenapa mereka memindahkan sesembahan yang sebenarnya mereka peruntukkan untuk Allah kepada berhala-berhala mereka, akan tetapi mereka tidak memindahkan sama sekali sesembahan yang sudah diperuntukkan untuk berhala mereka. Allah berfirman :

“Dan, mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman yang diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, ‘ Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami’. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”. (Al-An’am: 136).

Diantara jenis taqarrub yang mereka lakukan ialah dengan bernazar menyajikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala. Allah berfirman :

” Dan, mereka mengatakan,’inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki’, menurut anggapan mereka, dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah”. (Al-An’am: 138).

Diantaranya lagi adalah ritual al-bahirah, as-sa’ibah, al-washilah, al-hami . Ibnu Ishaq berkata: “al-bahirah ialah anak as-sa’ibah yaitu onta betina yang telah beranak sepuluh betina secara berturut-turut dan tidak diselingi sama sekali oleh yang jantan. Onta semacam inilah yang dilakukan terhadapnya ritual sa’ibah; ia tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, susunya tidak boleh diminum kecuali oleh tamu. Jika kemudian melahirkan lagi anak betina, maka telinganya harus dibelah. Setelah itu ia harus dilepaskan secara bebas bersama induknya, dan juga harus mendapat perlakuan yang sama seperti induknya. Al-Washilah adalah domba betina yang lahir dari lima perut; jika kemudian lahir sepuluh betina secara berturut-turut dan tidak diantarai lahirnya yang jantan, mereka mengadakan ritual washilah. Mereka berkata: “aku telah melakukan washilah”. Kemudian bila domba tersebut beranak lagi, maka mereka persembahkan kepada kaum laki-laki saja kecuali ada yang mati maka dalam hal ini kaum laki-laki dan wanita bersama-sama melahapnya. Sedangkan Al-hami adalah onta jantan yang sudah membuahkan sepuluh anak betina secara berturut-turut tanpa ada jantannya. Punggung onta seperti ini dijaga, tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, harus dibiarkan lepas dan tidak digunakan kecuali untuk kepentingan ritual tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah menurunkan ayat :

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahirah, sa’ibah, washilah dan hami. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti”. (al-Maidah: 103).

Allah juga menurunkan ayat :

” Dan, mereka mengatakan :’apa yang di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami’, dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wantia sama-sama boleh memakannya”. (Al-An’am: 139).

Sa’id bin al-Musayyab telah menegaskan bahwa binatang-binatang ternak diperuntukkan bagi taghut-taghut mereka. Di dalam hadits yang shahih dan marfu’, bahwa Amru bin Luhai adalah orang pertama yang melakukan ritual saibah (mempersembahkan onta untuk berhala).

Bangsa Arab berbuat seperti itu terhadap berhala-berhalanya, dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah, menghubungkan mereka kepadaNya serta meminta syafa’at kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an :

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az-Zumar:3).

“Dan, mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat, dan mereka berkata: ‘mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami disisi Allah”. (Yunus: 18).

Orang-orang Arab juga mengundi nasib dengan sesuatu yang disebut al-azlam atau anak panah yang tidak ada bulunya. Anak panah itu ada tiga jenis: satu jenis ditulis dengan kata “ya”, satu lagi ditulis dengan kata “tidak” dan jenis ketiga dengan kata “dibiarkan”. Mereka mengundi nasib untuk menentukan apa yang akan dilakukan, seperti bepergian, menikah atau lain-lainnya, dengan menggunakan anak panah itu. Jika yang keluar tulisan “ya”, mereka melaksanakannya, dan jika yang keluar adalah tulisan “tidak” , mereka menangguhkannya pada tahun itu hingga mereka melakukannya lagi. Dan jika yang mncul adalah tulisan “dibiarkan” mereka mengulangi undiannya. Ada lagi jenis lain, yaitu tulisan “air” dan “tebusan”, begitu juga tulisan “dari kalian”, “bukan dari kalian” atau “disusul”. Bila mereka ragu terhadap nasab seseorang mereka membawanya ke hubal dan membawa serta juga seratus hewan kurban lalu diserahkan kepada pengundi. Dalam hal ini, jika yang keluar adalah tulisan “dari kalian”, maka dia diangkat sebagai penengah/pemutus perkara diantara mereka. Jika yang keluar tulisan “bukan dari kalian” maka dia diangkat sebagai sekutu. Sedangkan jika yang keluar adalah tulisan “disusul” maka kedudukannya di tengah mereka adalah sebagai orang yang tidak bernasab dan tidak diangkat sebagai sekutu.

Tak beda jauh dengan hal ini adalah perjudian dan undian. Mereka membagi-bagikan daging unta yang mereka sembelih berdasarkan undian tersebut.

Mereka juga percaya kepada perkataan peramal, dukun (para normal) dan ahli nujum (astrolog). Peramal adalah orang yang suka memberikan informasi tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan, mengaku-aku dirinya mengetahui rahasia-rahasia. Diantara para peramal ini, ada yang mendakwa dirinya memiliki pengikut dari bangsa jin yang memberikan informasi kepadanya. Diantara mereka juga ada yang mendakwa mengetahui hal-hal yang ghaib berdasarkan pemahaman yang diberikan kepadanya. Ada lagi dari mereka yang mendakwa dirinya mengetahui banyak hal dengan mengemukan premis-premis dan sebab-sebab yang dapat dijadikan bahan untuk mengetahui posisinya berdasarkan kepada ucapan si penanya, perbuatannya atau kondisinya; inilah yang disebut dengan ‘arraf (dukun/para normal) seperti orang yang mendakwa dirinya mengetahui barang yang dicuri, letak terjadinya pencurian, juga orang yang tersesat, dan lain-lain. Sedangkan ahli nujum (astrolog) adalah orang yang mengamati keadaan bintang dan planet, lalu dia menghitung perjalanan dan waktu peredarannya, agar dengan begitu dia bisa mengetahui berbagai keadaan di dunia dan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi di kemudian hari. Membenarkan ramalan ahli nujum/astrolog ini pada hakikatnya merupakan bentuk kepercayaan terhadap bintang-bintang. Diantara keyakinan mereka terhadap bintang-bintang adalah keyakinan terhadap anwa’ (simbol tertentu yang dibaca sesuai dengan posisi bintang) ; oleh karenanya mereka selalu mengatakan ; ‘hujan yang turun ke atas kami ini lantaran posisi bintang begini dan begitu’.

Di kalangan mereka juga beredar kepercayaan ath-Thiyarah yaitu merasa nasib sial atau meramal nasib buruk (karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja) . Pada mulanya mereka mendatangi seekor burung atau kijang, lalu mengusirnya. Jika burung atau kijang itu mengambil arah kanan, maka mereka jadi bepergian ke tempat yang hendak dituju dan hal itu dianggap sebagai pertanda baik. Jika burung atau kijang itu mengambil arah kisri, maka mereka tidak berani bepergian dan mereka meramal hal itu sebagai tanda kesialan. Mereka juga meramal sial jika di tengah jalan bertemu burung atau hewan tertentu.

Tak bebeda jauh dengan hal ini adalah kebiasaan mereka yang menggantungkan ruas tulang kelinci (dengan kepercayaan bahwa hal itu dapat menolak bala’-penj). Mereka juga menyandarkan kesialan kepada hari-hari, bulan-bulan, hewan-hewan, rumah-rumah atau wanita-wanita. Begitu juga keyakinan terhadap penularan penyakit dan binatang berbisa. Mereka percaya bahwa orang yang mati terbunuh, jiwanya tidak tenteram jika dendamnya tidak dilampiaskan. Ruhnya bisa menjadi binatang berbisa dan burung hantu yang beterbangan di padang sahara/tanah lapang seraya berteriak: ‘Haus! haus! beri aku minum! beri aku minum!’, dan bila telah dilampiaskan dendamnya maka ruhnya merasa tenang dan tentram kembali.

Orang-orang Jahiliyah masih dalam kondisi kehidupan demikian, tetapi ajaran Ibrahim masih tersisa pada mereka dan belum ditinggalkan sama sekali, seperti pengagungan terhadap baitullah (ka’bah), thawaf, haji, umrah, wukuf di ‘Arafah dan Muzdalifah, serta ritual mempersembahkan onta sembelihan untuk ka’bah. Memang, dalam hal ini terjadi hal-hal yang mereka ada-adakan. Diantaranya; orang-orang Quraisy berkata, ‘kami anak keturunan Ibrahim dan penduduk tanah haram, penguasa ka’bah dan penghuni Mekkah. Tak seorangpun dari Bangsa Arab yang mempunyai hak dan kedudukan seperti kami- dalam hal ini, mereka menjuluki diri mereka dengan alhums (kaum pemberani)- ; oleh karena itu tidak selayaknya kami keluar dari tanah haram menuju tanah halal (di luar tanah haram). Mereka tidak melaksanakan wuquf di Arafah, juga tidak ifadhah dari sana, tapi melaukan ifadhah dari Muzdalifah. Mengenai hal ini,turun firman Allah:

“Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak” . (al-Baqarah: 199).

Diantara hal-hal lain yang mereka katakana adalah : “tidak selayaknya alhums mengkonsumsi keju, memasak dan menyaring samin/mentega saat mereka sedang berihram, serta memasuki rumah-rumah dengan pakaian dari bulu/wol. Juga tidak selayaknya berteduh ketika lagi berteduh kecuali di rumah-rumah yang terbuat dari kulit selama mereka dalam keadaan berihram”.

Mereka juga berkata: “Penduduk di luar tanah haram tidak boleh memakan makanan yang mereka bawa dari luar tanah haram ke tanah haram, jika kedatangan mereka itu dimaksudkan untuk melakukan haji atau umrah”.

Hal-Hal lainya yang mereka buat-buat adalah mereka melarang orang yang datang dari luar tanah haram bila mereka datang dan berthawaf untuk pertama kalinya kecuali dengan mengenakan pakaian kebesaran alhums dan jika mereka tidak mendapatkannya maka kaum laki-laki harus thawaf dalam keadaan telanjang. Sementara wanita juga harus menanggalkan seluruh pakaiannya kecuali pakaian rumah yang longgar,kemudian baru berthawaf dan melantunkan :

“Hari ini tampak sebagian atau seluruhnya apa yang nampak itu tiadalah ia perkenankan”

Dan berkaitan dengan itu, turun firman Allah :

“Hai anak Adam! Pakailah pakaian yang indah di setiap (memasuki) masjid”. (al-A’raf: 31).

Jika salah seorang dari laki-laki dan wanita merasa lebih hormat untuk thawaf dengan pakaian yang dikenakannya dari luar tanah haram maka sehabis thawaf dia harus membuangnya dan ketika itu tak seorangpun yang boleh menggunakannya lagi; baik dari mereka maupun selain mereka.

Hal lainya lagi adalah perlakuan mereka yang tidak mau masuk rumah dari pintu depan bila sedang berihram, tetapi mereka melubangi bagian tengah rumah untuk tempat masuk dan keluar, dan mereka manganggap pikiran sempit semacam ini sebagai kebaktian (birr); maka hal semacam ini kemudian dilarang oleh Al-Qur’an dalam firmanNya :

“Dan bukanlah kebaktian itu memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertakwa”. (al-Baqarah: 189).

Kepercayaan semacam ini ; kepercayaan bernuansa syirik, penyembahan terhadap berhala, keyakinan terhadap hipotesis-hipotesis lemah dan khurafat-khurafat adalah merupakan kepercayaan/agama mayoritas Bangsa Arab. Disamping itu juga, ada agama lain seperti; Yahudi, Nashrani, Majusi dan Shabi’ah. Agama-agama ini juga mendapatkan jalan untuk memasuki pemukiman Bangsa Arab.

Ada dua periode yang sempat mewakili keberadaan orang-orang Yahudi di jazirah Arab:

Proses hijrah yang mereka lakukan pada periode penaklukan Bangsa Babilonia dan Assyiria di Palestina; tekanan yang dialami oleh orang-orang Yahudi, luluh lantaknya negeri dan hancurnya rumah ibadah mereka oleh Bukhtanashshar pada tahun 587 SM serta ditawan dan dibawanya sebagian besar mereka ke Babilonia menyebabkan sebagian mereka yang lain meninggalkan negeri Palestina menuju Hijaz dan bermukim di sekitar belahan utaranya.

Diawali dari sejak pendudukan yang dilakukan oleh Bangsa Romawi terhadap Palestina dibawah komando Pettis pada tahun 70 M; adanya tekanan dari orang-orang Romawi terhadap bangsa Palestina, hancur dan luluh lantaknya rumah ibadah mereka membuahkan berimigrasinya banyak suku dari bangsa Yahudi ke Hijaz dan menetap di Yatsrib (Madinah sekarang-penj), Khaibar dan Taima’. Disana mereka mendirikan perkampungan, istana-istana dan benteng-benteng. Agama Yahudi tersebar di kalangan sebagian bangsa Arab melalui kaum imigran Yahudi tersebut. Di kemudian harinya mereka memiliki peran yang sangat signifikan dalam percaturan politik pada periode tersebut sebelum munculnya Islam. Ketika Islam muncul, suku-suku Yahudi yang sudah ada dan masyhur adalah Khaibar, an-Nadhir, al-Mushthaliq, Quraizhah dan Qainuqa’. Sejarawan, as-Samhudi menyebutkan dalam bukunya “wafâul wafa’ ” halaman 116 bahwa suku-suku Yahudi yang mampir di Yatsrib dan datang ke sana dari waktu ke waktu berjumlah lebih dari dua puluh suku.

Sementara itu, masuknya agama Yahudi di Yaman adalah melalui penjual jerami, As’ad bin Abi Karb. Ketika itu, dia pergi berperang ke Yatsrib dan disanalah dia memeluk agama Yahudi. Dia membawa serta dua orang ulama Yahudi dari suku Bani Quraizhah ke Yaman. Agama Yahudi tumbuh dan berkembang dengan pesat di sana, terlebih lagi ketika anaknya, Yusuf yang bergelar Dzu Nuwas menjadi penguasa di Yaman; dia menyerang penganut agama Nashrani dari Najran dan mengajak mereka untuk menganut agama Yahudi, namun mereka menolak. Karena penolakan ini, dia kemudian menggali parit dan mencampakkan mereka ke dalamnya lalu mereka dibakar hidup-hidup. Dalam tindakannya ini, dia tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil dan orang-orang berusia lanjut. Sejarah mencatat, bahwa jumlah korban pembunuhan massal ini berkisar antara 20.000 hingga 40.000 jiwa. Peristiwa itu terjadi pada bulan Oktober tahun 523 M. Al-Qur’an menceritakan sebagian dari drama tragis tersebut dalam surat al-Buruj (tentang Ashhabul Ukhdud).

Sedangkan agama Nasrani masuk ke jazirah Arab melalui pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Pendudukan orang-orang Habasyah yang pertama kali di Yaman terjadi pada tanun 340 M dan berlangsung hingga tahun 378 M. Pada masa itu, gerakan kristenisasi mulai merambah pemukiman di Yaman. Tak berapa jauh dari masa ini, seorang yang yang dikenal sebagai orang yang zuhud, doanya mustajab dan juga dianggap mempunyai kekeramatan. Orang ini dikenal dengan sebutan Fimiyun; dialah yang datang ke Najran. Dia mengajak penduduk Najran untuk memeluk agama Masehi. Mereka melihat tanda-tanda kejujuran pada dirinya dan kebenaran agamanya. Oleh karena itu mereka menerima dakwahnya dan bersedia memeluk agama Nasrani.

Tatkala orang-orang Habasyah menduduki Yaman untuk kedua kalinya pada tahun 525 M; sebagai balasan atas perlakuan Dzu Nuwas yang dulu pernah dilakukannya, dan tampuk pimpinan dipegang oleh Abrahah, maka dia menyebarkan agama Nasrani dengan gencar dan target sasaran yang luas hingga mencapai puncaknya yaitu tatkala dia membangun sebuah gereja di Yaman, yang diberi nama “Ka’bah Yaman”. Dia menginginkan agar haji yang dilakukan oleh Bangsa Arab dialihkan ke gereja ini. Disamping itu,dia juga berniat menghancurkan Baitullah di Mekkah, namun Allah membinasakannya dan akan mengazabnya di dunia dan akhirat.

Agama Nashrani dianut oleh kaum Arab Ghassan, suku-suku Taghlib dan Thayyi’ dan selain kedua suku terakhir ini. Hal itu disebabkan mereka bertetangga dengan orang-orang Romawi. Bukan itu saja, bahkan sebagian raja-raja Hirah juga telah memeluknya.

Sedangkan agama Majusi lebih banyak berkembang di kalangan orang-orang Arab yang bertetangga dengan orang-orang Persia yaitu orang-orang Arab di Iraq, Bahrain (tepatnya di Ahsa’), Hajar dan kawasan tepi pantai teluk Arab yang bertetangga dengannya. Elite-Elite politik Yaman juga ada yang memeluk agama Majusi pada masa pendudukan Bangsa Persia terhadap Yaman.

Adapun agama Shabi’ah; menurut penemuan yang dilakukan melalui penggalian dan penelusuran peninggalan-peninggalan mereka di negeri Iraq dan lain-lainnya menunjukkan bahwa agama tersebut dianut oleh kaum Ibrahim Chaldeans. Begitu juga, agama tersebut dianut oleh mayoritas penduduk Syam dan Yaman pada zaman purbakala. Setelah beruntunnya kedatangan beberapa agama baru seperti agama Yahudi dan Nasrani, agama ini mulai kehilangan identitasnya dan aktivutasnya mulai redup. Tetapi masih ada sisa-sisa para pemeluknya yang membaur dengan para pemeluk Majusi atau hidup berdampingan dengan mereka, yaitu di masyarakat Arab di Iraq dan di kawasan tepi pantai teluk Arab.

Kondisi Kehidupan Agama

Agama-agama tersebut merupakan agama yang sempat eksis sebelum kedatangan Islam. Namun dalam agama-agama tersebut, sudah terjadi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Orang-orang Musyrik yang mendakwa diri mereka adalah penganut agama Ibrahim, justeru keadaannya teramat jauh dari perintah dan larangan syariat Ibrahim. Ajaran-ajaran tentang akhlaq mulia mereka sudah abaikan sehingga maksiat tersebar dimana-mana. Seiring dengan peralihan zaman secara bertahap terjadi perkembang yang sama seperti ajpa yang dilakukan oleh para penyembah berhala (paganis). Adat istiadat dan tradisi-tradisi yang berlaku telah berubah menjadi khurafat-khurafat dalam agama dan ini memiliki dampak negatif yang amat parah terhadap kehidupan sosio politik dan religi masyarakat.

Lain lagi perubahan yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi; mereka telah menjadi manusia yang dijangkiti penyakit riya’ dan menghakimi sendiri. Para pemimpin mereka menjadi sesembahan selain Allah; menghakimi masyarakat seenaknya dan bahkan menvonis mereka seakan mereka mengetahui apa yang terbetik dihati dan dibibir mereka. Ambisi utama mereka hanyalah bagaimana mendapatkan kekayaan dan kedudukan, sekalipun berakibat lenyapnya agama dan menyebarnya kekufuran serta pengabaian terhadap ajaran-ajaran yang telah diperintahkan oleh Allah dan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap orang.

Berbeda dengan agama Nashrani, ia berubah menjadi agama berhala (paganisme) yang sulit dipahami dan mengalami pencampuradukan yang amat janggal antara pemahaman terhadap Allah dan manusia. Agama semacam ini tidak berpengaruh banyak dan secara signifikan terhadap bangsa Arab karena ajaran-ajarannya jauh dari gaya hidup yang mereka kenal dan lakoni. Karenanya, tidak mungkin pula mereka jauh dari gaya hidup tersebut.

Sementara kondisi semua agama bangsa Arab, tak ubahnya seperti kondisi orang-orang Musyrik; perasaan hati yang sama, kepercayaan yang beragam, tradisi dan kebiasaan yang saling sinkron.

Sumber : Kitab siroh Ar rohiqul Makhtum Karya Syaikh shofiurrohman Al Mubarok fury

Oleh: and1wijaya | November 30, 2013

Kekuasaan Dan Imarah Dikalangan Bangsa Arab

Selagi kita hendak membicarakan masalah kekuasaan di kalangan Bangsa Arab sebelum Islam, berarti kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, imarah (keemiratan), agama dan kepercayaan di kalangan Bangsa Arab, agar lebih mudah bagi kita untuk memahami kondisi yang tengah bergejolak saat kemunculan Islam.

Para penguasa jazirah tatkala terbitnya matahari Islam, bisa dibagi menjadi dua kelompok:

  • Raja-raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak memiliki independensi dan berdiri sendiri
  • Para pemimpin dan pemuka kabilah atau suku, yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Mayoritas di antara mereka memiliki independensi. Bahkan boleh jadi sebagian diantara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang mengenakan mahkota.

Raja-raja yang memiliki mahkota adalah raja-raja Yaman, raja-raja kawasan Syam, Ghassan dan Hirah. Sedangkan penguasa-penguasa lainnya di jazirah Arab tidak memiliki mahkota. Baca Lanjutannya…

Pada hakikatnya istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam kepada manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari ‘ibadah kepada hamba menuju ‘ibadah kepada Allah. Dan tidak mungkin bisa menghadirkan gambarannya yang amat menawan secara pas dan mengena kecuali setelah melakukan perbandingan antara latar belakang risalah ini (risalah Nabawiyyah) dan pengaruhnya. Berangkat dari sinilah kami merasa perlu mengemukakan fasal yang berbicara tentang kaum-kaum ‘Arab dan perkembangannya sebelum Islam, serta tentang kondisi-kondisi saat Nabi Muhammad diutus.

Posisi Bangsa Arab

Menurut bahasa, ‘Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Jazirah Arab dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah barat, di sebelah timur dibatasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan, di sebelah selatan dibatasi laut Arab yang bersambung dengan lautan India dan di sebelah utara dibatasi negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara satu juta mil kali satu juta tiga ratus ribu mil.

Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai Bangsa Arab. Oleh karena itu kita bisa melihat penduduk jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan dua imperium yang besar saat itu, yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.

Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar tentu akan bersandar di ujungnya.

Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan dari jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.

Kaum-kaum Arab

Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:

Arab Bâ-idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti ‘Ad, Tsamud, Thasm, Judais, ‘Imlaq dan lain-lainnya.

Arab ‘ÂAribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.

Arab Musta’ribah. yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il, yang disebut pula Arab ‘Adnaniyah.

Tempat kelahiran Arab ‘ÂAribah atau kaum Qahthan adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku, yang terkenal adalah dua kabilah:

Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal, yaitu Zaid Al-Jumhur, Qudhâ’ah dan Sakâsik.

Kahlân, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu Hamadan, Anmar, Thayyi’, Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan lain-lainnya. Suku-suku Kahlân banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari tekanan Bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan : bahwa mereka hijrah setelah terjadinya banjir besar tersebut.

Juga tidak menutup kemungkinan jika hal itu sebagai akibat dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku-suku Himyar dan pindahnya suku-suku Kahlân.

Suku-Suku Kahlân yang berhijrah bisa dibagi menjadi empat golongan :

Azd ; Kehijrahan mereka langsung dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, ‘Imran bin ‘Amru Muzaiqiya’. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu berjalan ke arah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut : Tsa’labah bin Amru pindah dari al-Azd menuju Hijaz, lalu menetap diantara (tempat yang bernama) Tsa’labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah dan menetap disana. Dan diantara keturunan Tsa’labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa’labah.
Diantara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin ‘Amr (atau yang dikenal dengan Khuza’ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz, hingga mereka singgah di Murr azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka tanah suci dan mendiami Makkah serta mengekstradisi penduduk aslinya, al-Jarahimah. Sedangkan ‘Imran bin ‘Amr singgah di Omman lalu bertempat tinggal di sana bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Omman, sedangkan kabilah-kabilah Nashr bin aI-Azd menetap di Tuhâmah, yang disebut Uzd Syanû-ah. Jafnah bin ‘Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama anak keturunannya. Dia dijuluki Bapak para raja al-Ghassâsinah, yang dinisbatkan kepada mata air di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassân yang telah mereka singgahi sebelum akhimya pindah ke Syam.

Lakhm dan Judzam; mereka pindah ke bagian Timur dan Barat. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi’ah, pemimpin raja-raja Al-Manadzirah di Hirah.

Bani Thayyi’ ; Mereka berpindah ke arah utara setelah perjalanan Azd hingga singgah di antara dua gunung; Aja dan Salma, dan akhirnya menetap di sana dan kedua gunung tersebut kemudian dekenal dengan dua gunungThayyi’.

Kindah; Mereka singgah di Bahrain, kemudian terpaksa meninggalkannya dan singgah di Hadhramaut. Namun nasib mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang menimpa mereka saat berada di Bahrain, hingga mereka pindah lagi ke Najd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan kuat. Tapi pemerintahan itu cepat berakhir tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Di sana ada satu kabilah Himyar yaitu Qudha’ah (meskipun masih diperselisihkan penisbatannya kepada Himyar)yang meninggalkan Yaman dan bermukim di daerah pedalaman as-Samawah, pinggiran Iraq.*

* Lihat rincian tentang kabilah-kabilah ini dan hijrahnya dalam buku-buku: “Nasab Ma’d wal Yaman al-Kabir”, “Jamharatun Nasab”, “al-’Iqdul Farid”, “Qalaidul Jumman”, “Nihayatul Arib”, “Tarikh Ibni Khaldun”, “Saba-ikuz Zahab” , dll. Dan terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam berbagai referensi sejarah dalam menetapkan periode hijrah-hijrah yang mereka lakukan dan sebab-sebabnya. Tapi setel·h mengamati secara cermat dari berbagai sudut pandang, maka kami telah menetapkan pendapat yang kami anggap kuat dalam bab ini berdasarkan dalil yang ada.

Adapun Arab Musta’ribah, mereka merupakan cikal bakal dari nenek moyang mereka yang tertua Ibrahim ‘Alaihis-Salam, yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah kota yang disebut Ar, dan terletak di pinggir barat sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak upaya penggalian dan pengeboran yang dilakukan untuk mengungkap rincian yang mendetail tentang kota ini dan keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam serta kondisi religius dan sosial yang ada di negeri itu.

Sudah diketahui bersama bahwa Ibrahim ‘ Alaihis Salam hijrah dari Iraq ke Hâran atau Hirran, termasuk pula ke Palestina, dan menjadikan negeri itu sebagai pijakan/markas dakwah beliau. Beliau banyak menyusuri pelosok negeri ini dan lainnya, dan beliau pernah sekali mengunjungi Mesir. Fir-’aun (sebutan bagi penguasa Mesir) kala itu berupaya untuk melakukan tipu daya dan niat buruk terhadap istri beliau, Sarah. Namun Allah membalas tipu dayanya (senjata makan tuan). Dan tersadarlah Fir’aun itu betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya,** Hajar sebagai abdinya (Sarah). Hal itu dia lakukan sebagai tanda pengakuannya terhadap keutamaannya, kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim. Ibrahim Alaihis Salam kembali ke Palestina dan Allah menganugerahinya Isma’il dari Hajar. Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim untuk mengekstradisi Hajar dan putranya yang masih kecil, Isma’il. Maka beliau membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang tiada ditumbuhi tanaman (gersang dan tandus) di sisi Baitul Haram, yang saat itu hanyalah berupa gunduka~gundukan tanah. Rasa gundah mulai menggayuti pikiran Ibrahim, Beliau menoleh ke kiri dan kanan, lalu meletakkan mereka berdua di dalam tenda, diatas mata air zamzam, bagian atas masjid. Dan pada saat itu tak ada seorang pun yang tinggal di Makkah dan tidak ada mata air. Beliau meletakkan didekat mereka kantong kulit yang berisi kurma, dan wadah air. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Berselang beberapa hari kemudian, bekal dan air pun habis. Sementara tidak ada mata air yang mengalir. Disana tiba-tiba mata air Zamzam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua hingga batas waktu tertentu. Kisah mengenai hal ini sudah banyak diketahui secara lengkapnya.

** Menurut kisah yang sudah banyak dikenal, Hajar adalah seorang budak wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, al-’Allamah al-Qadhy Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury telah melakukan penelitian secara seksama bahwa Hajar adalah seorang wanita merdeka, dan dia adalah putri Fir’aun sendiri. Lihat buku “Rahmatun lil’alamin, 2/3637 dan juga buku “Tarikh Ibni Khaldun”, 2/1/77.

Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang setelah itu dan bermukim di Mekkah atas perkenan dari ibu Isma’il . Ada yang mengatakan, mereka sudah berada di sana sebelum itu, tepatnya di lembah-lembah di pinggir kota Makkah. Adapun riwayat Bukhari menegaskan bahwa mereka singgah di Mekkah setelah kedatangan Isma’il dan ibunya, sebelum Isma’il menginjak remaja. Mereka sudah biasa melewati lembah Makkah ini sebelum itu.

Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Makkah untuk menjenguk keluarganya. Dalam hal ini tidak diketahui berapa kali kunjungan/perjalanan yang dilakukannya, Hanya saja menurut beberapa referensi sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali. Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia Ta’ala memperlihatkan Ibrahim dalam mimpinya seolah-olah dia menyembelih anaknya, Isma’il. Maka beliau langsung melaksanakan perintah ini. Allah berfirman :
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim menbaringkan onaknya atar pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mrmbenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ” (Ash-Shaffat: 103-107).

Didalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa umur Isma’il selisih tiga belas tahun lebih tua dari Ishaq. Secara tekstual, kisah ini menunjukkan bahwa peristiwa itu tejadi sebelum kelahiran Ishaq sebab kabar gembira tentang kelahiran Ishaq disampaikan setelah pengupasan kisah ini secara keseluruhan.

Setidak-tidaknya kisah ini mengandung satu kisah perjalanan sebelum Isma’il menginjak remaja. Sedangkan tiga kisah selanjutnya telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara panjang lebar dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, yang intinya bahwa ketika remaja Isma’il dan belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, mereka merasa tertarik kepadanya, lalu mereka mengawinkannya dengan salah seorang wanita golongan mereka dan saat itu ibu Isma’il sudah meninggal dunia. Maka suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya setelah terjadinya pernikahan tersebut, beliau tidak mendapatkan Isma’il, lalu beliau bertanya kepada istrinya mengenai suaminya, Isma’il dan kondisi mereka berdua. Istri Isma’il mengeluhkan kehidupm mereka yang melarat. Maka Ibrahim menitip pesan agar suaminya nanti mengganti palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Isma’il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Isma’il menceraikan istrinya itu dan kawin lagi dengan wanita lain, yaitu putri Madhdhadh bin ‘Amr, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum menurut pendapat kebanyakan (sejarawan-pen).

Setelah perkawinan Isma’il yang kedua ini, Ibrahim datang lagi, namun tidak bertemu dengan Isma’il lalu akhirnya kembali ke Palestina setelah beliau menanyakan kepada istrinya tersebit tentang Isma’il dan kondisi mereka berdua, isterinya memuij kepada Allah (atas apa yang dianugerahkan kepada mereka berdua). Kemudian Ibrahim kembali menitip pesan lewat istri Isma’il, agar Isma’il memperkokoh palang pintu rumahnya. Pada kedatangan yang ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Isma’il, yang saat itu sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat zamzam. Tatkala melihat kehadiran ayahnya, Isma’il berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, begitu juga dengan Ibrahim. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama yang sangat jarang dijumpai seorang ayah yang penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya, begitu pula dengan Isma’il, sebagai anak yang berbakti dan shalih. Dan kali ini mereka berdua membangun Ka’bah dan meninggikan pondasinya. Kemudian Ibrahim pun mengumumkan kepada khalayak agar melakukan haji sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.

Dari perkawinannya dengan putri Madhdhadh, Isma’il dikaruniai oleh Allah sebanyak dua belas orang anak yang semuanya laki-laki, yaitu: Nabat atau Nabayuth, Qidar, Adba-il, Mubsyam, Misyma’, Duma, Misya, Hidad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman. Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk beberapa lama. Mata pencaharian mayoritas mereka adalah berdagang dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbaga i penjuru Jazirah, dan bahkan hingga keluar Jazirah, kemudian seiring dengan pejalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qidar.

Peradaban anak keturunan Nabat mengalami kemajuan di bagian utara Hijaz. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai daerah-daerah di sekitarnya, dan menjadikan Al-Bathra’ sebagai ibukotanya. Tak seorangpun yang mampu melawan mereka hingga datangnya pasukan Romawi yang berhasil melindas mereka. Sekelompok Peneliti berpendapat bahwa raja-raja keturunan keluarga besar Ghassan, termasuk juga kaum Anshor dari suku Aus dan Khazraj bukan berasal dari keturunan keluarga besar Qahthan, tetapi mereka adalah dari keturunan keluaraga besar Nabat, anak Isma’il dan sisa-sisa mereka masih berada di kawasan itu, dan pendapat ini diambil oleh Imam Bukhari sedangkan Imam Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa anak keturunan keluarga besar Qahthan adalah berasal dari keturunan keluarga besar Nabat.

Adapun anak keturunan Qidar bin Isma’il masih menetap di Makkah, beranak pinak di sana hingga menurunkan ‘Adnan dan anaknya Ma’ad. Dari dialah orang-orang Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka. Dan Adnan adalah nenek moyang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, “Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta”, lalu beliau tidak melanjutkannya. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab dari Adnan ke atas dan melemahkan (mendho’ifkan) hadits yang mengisyaratkan hal itu (hadits yang disebut diatas). Menurut mereka berdasarkan penelitian yang detail; sesungguhnya antara Adnan dan Ibrahim ‘Alaihis-Salam terdapat empat puluh keturunan.

Keturunan Ma’ad dari anaknya, Nizar telah berpencar kemana-mana (menurut suatu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma’ad). Dan Nizar sendiri mempunyai empat orang anak, yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah yang besar, yaitu: Iyad, Anmar, Rabi’ah dan Mudhar. Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Sedangkan dari Rabi’ah muncul Asad bin Rabi’ah, Anzah, Abdul-Qais, dua anak Wa-il ;Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.

Sedangkan kabilah Mudhar berkembang menjadi dua suku yang besar, yaitu Qais ‘Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dan dari Qais ‘Ailan muncul Bani Sulaim, Bani Hawazin, Bani Ghathafan. Kemudian dari Ghathafan muncul ‘Abs, Dzibyan, Asyja’ dan Ghany bin A’shar.

Dari Ilyas bin Mudhar muncul Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dan dari Kinanah muncul Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, ‘Udai, Makhzum, Tim, Zuhrah dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu Abdud Dar bin Qushay, Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin Qushay.

Sedangkan Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh Allah yang diantaanya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah memilih isma’il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma’il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturuan Bani Hasyim. “.(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).

Dari al-’Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”. (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

Setelah anak-anak ‘Adnan beranak-pinak, mereka berpencar diberbagai tempat di penjuru jazirah Arab, menjelajahi tempat-tempat yang banyak curah hujannya dan ditumbuhi oleh tanaman.

Abdul Qais dan keturunan Bakr bin Wa-il serta keturunan Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha’b bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakr bin Wa-il menetap di berbagai penjuru tanah Jazirah, mulai dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian tanah kosong Iraq, al-Ablah hingga Haita.

Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat, diantaranya terdapat suku-suku yang pernah hidup berdampingan dengan (kabilah) Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah. Bani Sulaim menetap dekat Madinah, dari Wadi al-Qura hingga ke Khaibar hingga bagian timur Madinah mencapai batas dua gunung hingga berakhir di kawasan pegungan Hurrah. Sementara Tsaqif menetap di Tha’if dan Hawazin di timur Makkah dipinggiran Authas yaitu dalam perjalanan antara Makkah dan Bashrah. Dan Bani Asad bermukim di timur Taima’ dan barat Kufah. Mereka dan Taima’ diantarai perkampungan Buhtur dari suku Thayyi’. Sedangkan masa perjalanan mereka dan Kufah ditempuh selama lima hari. Ada lagi suku Dzubyan yang bermukim di dekat Taima’ menuju Huran. Di Tihamah tersisa beberapa suku-suku Kinanah, sedangkan di Makkah tinggal suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatupun yang bisa menghimpun mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang menyatukan mereka dan membentuk satu kesatuan yang bisa mengangkat kedudukan dan martabat mereka.

Sumber : Kitab Siroh ar-rohiqul Makhtum Karya Syaikh shofiurrohman Al Mubarok Fury

youtube downloader online

music downloads free – go to website

screenshot pc – go to site

Oleh: and1wijaya | Agustus 9, 2013

Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

ORANG YANG BERHAK MEMANDIKAN JENAZAH

1.Muslim dan berakal.

2. Sesuai wasiat si mayit

a. Jika si mayit telah mewasiatkan kepada seseorang tertentu untuk memandikan jenazahnya maka orang itulah yang berhak memandikan

b. Jika si mayit tidak mewasiatkan kepada siapapun maka yang berhak adalah ayahnya atau kakek-kakeknya, kemudian anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki.

c. Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayit boleh menunjuk orang yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya. Atau orang yang paling mengusai fiqh tentang perawatan jenazah syar’i.

d. Demikian pula halnya jika si mayit adalah seorang wanita. (yaitu sesuai dengan wasiatnya jika ada, jika tidak ada maka ibunya atau nenek-neneknya, kemudian anak perempuannya atau cucu-cucunya yang perempuan. Jika tidak ada maka keluarganya boleh menunjuk seorang wanita yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya)

3. Sama jenis kelaminnya, artinya bila yang meninggal wanita maka yang memandikan wanita juga, demikian sebaliknya. Kecuali suami istri, untuk anak-anak yang masih dibawah 7 tahun, atau keadaan darurat lainnya yang membolehkan untuk memandikan jenazah beda jenis kelamin dengan yang memandikan.

4. Dianjurkan agar yang memandikan jenazah tersebut memilih dua orang dari keluarga si mayit. Seorang diantaranya yang terlihat tanda-tanda ketaatan pada wajahnya agar dapat memberikan pengarahan ketika memandikan jenazah tersebut. Seorang lagi yang tampak tanda-tanda maksiat dan dosa pada dirinya sehingga ia dapat menyaksikan jenazah dimandikan dan dibolakbalikkan, mudah-mudahan pemandangan seperti itu menjadi pelajaran baginya dan membuatnya terhenyak alu sadar dan bertaubat kepada Allah SWT. “Bukankah kematian sudah cukup menjadi pelajara bagi kita?”

5. Tidak diperbolehkan masuk ke tempat memandikan jenazah tersebut lebih dari tiga orang. Karena hal itu tidak disukai.

Pengantar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dengan memohon kemudahan dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kami susun sebuah blog yang secara ringkas insya Allah membicarakan tentang kematian, hal-hal yang mengingatkan kita akan kematian, penyemangat dan peringatan dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tanda-tanda kematian, serta penjelasan mengenai tata cara pengurusan jenazah dari memandikan, mengkafani, menshalatkan hingga menguburkannya.

Isi blog ini kami ambil dari sumber-sumber yang dapat Anda ambil langsung dari situs-situs Islami, artikel dan ta’lim al Asaatidzah kami, serta dari buku-buku keagamaan dari penerbit kepercayaan kami, yang akan selalu tertulis pada akhir masing-masing tulisan. Semoga Allah memberikan kepada kita istiqomah di atas al Haq dan menganugerahkan khusnul khotimah sebagai bekal di akherat kelak.

Adapun untuk isi blog yang terkait dengan kesehatan atau teknik medik dalam penanganan jenazah, maka kami ambil dari beberapa website terpercaya, yang link-nya dapat Anda cek langsung.

Terkait judul atau nama blog ini, “rawatjenazah“, kami pilih karena pengurusan jenazah adalah sesuatu yang tidak bisa tidak, harus ada sebagian dari kaum muslimin yang menguasainya. Pada kenyataannya, sangat jarang orang yang ahli di bidang ini.

Maka kami, memandang perlu untuk menghadirkan blog “rawatjenazah“ kepada kaum muslimin. Dengan harapan semoga dengan Allah memberikan manfa’at yang merata bagi kaum muslimin dan menjadi tuntunan yang mudah dalam melaksanakan kewajiban berkaitan dengan pengurusan jenazah.

Blog ini tentu jauh dari sempurna. Sehingga kami terus akan memperbaiki dan memperkayanya dengan informasi bermanfaat di dunia dan akherat.

Kami mohon bila ada kesalahan ketik maupun kesalahan seputar artikel blog kami ini, mohon kiranya untuk sudi menegur kami melalui : Klik di sini. Dan yang terbaik adalah ruju’ bila ternyata kami salah tidak lupa mengucapkan Jazakumullahu khairan katsira wa baarakallahu fiikum.

Bagi yang ingin memberikan kemudahan bagi perawatan jenazah muslimin yang kami kelola saat ini di sekitar lingkungan kami silahkan klik di sini. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.

Hormat kami,

Pengelola

update 29 mei 2012

29 Mei 2012 Posted by Abah Fajar | Dari Kami | alat dan perlengkapan untuk memandikan jenazah, cara memandikan jenazah, cara mengkafani jenazah, perawatan jenazah, rawat jenazah, rawatjenazah, rukti jenazah, tulisan bermanfaat | Tinggalkan Sebuah Komentar
Memandikan dan Mengkafani

Banyak rujukan bagi kita untuk memahami cara perawatan jenazah, diantaranya adalah buku yang akan kita sebutkan di bawah ini:

Al Mayyitu, Taghsiluhu Wa Takfinuhu Waah Shalatu `alihi Wa Dafnuhu

Cetakan:

“Al Maktabu At Ta`awuni Lid Da`wati Wal Irsyadi Wa Tau`aiyatil Jaliyati Fii Sulthanah. Di Bawah Bimbingan Wizaratu Asy Syu’uni Al Islamiyati Wal Auqafi Wad Da`wati Wal Irsyadi” (Departemen Agama Islam, Urusan Waqaf, Dakwah Dan Pengajaran) – Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia.

Untuk kenyamanan Anda, maka kami haturkan beberapa foto terkait perawatan jenazah yang kami ambil dari buku tersebut, semoga dapat memudahkan untuk memahami.

1.Pemandangan ruangan dalam pemandian jenazah.

2. Alat-alat yang dipergunakan untuk memandikan jenazah,

adalah sebagai berikut:

– Kapas secukupnya.

– Dua buah sarung tangan untuk petugas yang memandikan

– Sebuah spon penggosok

– Alat penggerus untuk menggerus dan menghaluskan kapur barus

– Spon-spon plastik

– Shampho

– Sidrin (daun bidara)

– Kapur barus

– Masker penutup hidung bagi petugas

– Gunting untuk memotong pakaian jenazah sebelum dimandikan

– Air

– Pengusir bau busuk

– Minyak wangi

Jangan lupakan (tambahan dari kami):

– 3 buah ember untuk tempat airnya (1 untuk tempat melarutkan daun bidara serbuk, 1 untuk air bersih sisanya untuk air kamper/kapur barus).

– 2 buah gayung (1 untuk ember daun bidara dan 1 lagi untuk ember air bersih dan ember kamper) .

– Terpal/celemek untuk menutup aurat mayat

– Handuk lebar .

– Kain untuk penutup saat tubuh mayat telah dikeringkan dari sisa air pemandian.

– Plester kedap air (bila dibutuhkan untuk menutupi luka yang ada pada mayat).

3. Mempersiapkan Kafan pada meja

Kafan-kafan mesti sudah disiapkan sebelummemulai memandikan jenazah

Serta menaburinya dengan bubuk kamfer maupun bubuk wewangian.

4. Membersihkan Mayat/Jenazah

Memulai dengan melunakkan persendian jenazah tersebut. Apabila kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotongi. Demikian pula bulu ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan mendekatinya, karena itu merupakan aurat besar.

Kemudian petugas mengangkat kepala jenazah hingga hampir mendekati posisi duduk. Lalu ia menjalankan tangannya (lengan bawah seperti pada gambar di atas) ke atas perut jenazah sambil menekannya dengan halus agar keluar darinya apa-apa yang siap untuk keluar.

5. Mewudlukannya

Setelah selesai membersihkan mayat maka dilanjutkan dengan me-wudlu’-kan jenazah tersebut sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kecuali pada kumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung). Maka cukup dengan petugas mengusap gigi-gigi jenazah serta kedua lubang hidungnya dengan dua jari yang sudah dibasahi air. Atau bisa juga dengan secarik kain yang dibasahi air. Dan jangan memasukkan air ke dalam mulut maupun hidungnya. Mulailah dengna membaca “Bismillah”.

6. Memandikannya

Selanjutnya petugas membasuh kepala dan janggutnya dengan air buih sidrin (daun bidara) atau dengan busa sabun. Kemudian membasuh anggota tubuhnya yang bagian kanan. Dimulai dari sisi kanan tengkuknya, kemudian tangan kanannya dan bahu kanannya, kemudian belahan dadanya yang sebelah kanan, kemudian sisi tubuhnya yang sebelah kanan, kemudian paha, betis dan telapak kaki yang sebelah kanan.

Selanjutnya petugas membalik sisi tubuhnya hingga miring ke sebelah kiri, kemudian membasuh belahan punggungnya yang sebelah kanan. Kemudian dengan cara yang sama petugas membasuh anggota tubuh jenazah yang sebelah kanan, lalu membalikkannya hingga miring ke sebelah kanan dan membasuh belahan punggung yang sebelah kiri.

Apabila sudah bisa bersih, maka yang wajib adalah memandikannya satu kali dan mustahabb (disukai / sunnah) tiga kali. Adapun jika belum bisa bersih, maka ditambah lagi memandikannya sampai bersih atau sampai tujuh kali. Dan disukai untuk menambahkan kapur barus pada pemandian yang terakhir, karena bisa mewangikan jenazah dan menyejukkannya. Oleh karena itulah ditambahkannya kapur barus ini pada pemandian yang terakhir agar baunya tidak hilang

Setelah selesai dari memandikan jenazah ini petugas mengelapnya (menghandukinya) dengan kain atau yang semisalnya.

7. Kemudian mulai mengkafaninya.

Kemudian didatangkan jenazah yang sudah dimandikan lalu diletakkan di atas lembaran-lembaran kain kafan itu dengan posisi terlentang. Kemudian didatangkan hanuth yaitu minyak wangi (parfum) dan kapas. Lalu kapas tersebut dibubuhi parfum dan diletakkan di antara kedua pantat jenazah, serta dikencangkan dengan secarik kain di atasnya. Kemudian sisa kapas yang lain yang sudah diberi parfum diletakkan di atas kedua matanya, kedua lubang hidungnya, mulutnya, kedua telinganya dan di atas tempat-tempat sujudnya, yaitu dahinya, hidungnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, ujung-ujung jari kedua telapak kakinya, dan juga pada kedua lipatan ketiaknya, kedua lipatan lututnya, serta pusarnya. Dan diberi parfum pula antara kafan-kafan tersebut, juga kepala jenazah.

Selanjutnya ujung kain kafan yang paling atas yang sebelah kiri dilipatkan (diselimutkan) ke sisi tubuhnya yang sebelah kanan. Dan ujung yang sebelah kanan diselimutkan ke sisi tubuhnya yang sebelah kiri. Berikutnya lembaran kafan yang kedua juga seperti itu, demikian pula lembaran yang ketiga. Dan hendaknya lebihan panjang kain kafan yang ada di bagian kepala lebih panjang dari pada lebihan yang ada di bagian kedua kakinya. Kemudian lebihan kain kafan yang ada pada bagian kepala di himpun dan dilipat ke atas wajahnya, sedangkan lebihan kain kafan yang ada pada bagian kaki dihimpun dan ke atas kakinya (ke arah atas). Kemudian kain-kain kafan itu diikat agar tidak berlepasan dan (nantinya) ikatan-ikatan ini dilepas di dalam kubur (kecuali bagian kepala dan kaki).

Semoga dapat bermanfaat. Wallahu’alam

Oleh: and1wijaya | Juli 19, 2013

Metode Praktis Menerjemahkan Kalimat Bahasa Arab

 

METODE PRAKTIS MENERJEMAHKAN KALIMAT BAHASA ARAB

 

Oleh Abu Ahmad ‘Abdul ‘Alim Ricki Kurniawan Al Mutafaqqih

 

 

TUJUAN

 

Setelah membaca tutorial ini diharapkan pembaca dapat menerjemahkan kalimat bahasa arab dengan mudah, baik dan benar.

 

PENGANTAR

 

Proses menerjemahkan kalimat dari bahasa arab ke bahasa indonesia adalah gabungan dari proses menerjemahkan kata kata dalam kalimat bahasa arab, menentukan pola dalam bahasa arab yang dianut kalimat itu, dan merubah pola itu menjadi pola kalimat bahasa indonesia yang mudah dimengerti. Proses ini sangat menyenangkan karena dengan mengikuti proses ini kita dapat memperoleh ilmu yang benar tentang bacaan kita insya Allah.

 

Tutorial ini diringkas dan dimodifikasi oleh penulis dari buku yang ditulis Drs. Abdul Haris, MA dengan judul Cara Mudah Membaca & Memahami Teks-teks Bahasa Arab (Sistem 12 jam) bagian dari bab 6 dengan judul Membaca dan Memahami Kalimat .

 

 

 

ISI

 

Metode praktis dalam menerjemahkan kalimat bahasa arab menjadi kalimat bahasa indonesia sangat beragam. Berikut ini disajikan salah satu metode yang ditawarkan oleh Ustadz Drs. Abdul Haris, MA dalam bukunya.

 

  1. Tentukan jenis kalimatnya apakah jumlah ismiyyah atau jumlah fi’liyyah =>Terjemahkan kata- kata yang terlibat dalam kalimat (terjemahkan secara leksikal) =>Tentukan pola yang dianut kalimat dalam aturan bahasa Arab terutama subyek ( musnad ilaih ) dan predikat ( musnad ) =>Ubah pola menjadi pola yang dianut dalam bahasa Indonesia.

 

Jenis kalimat termasuk jumlah fi’liyyah

 

Terjemahkan perkata secara leksikal =>Tentukan subyek ( musnad ilaih ) dan predikat ( musnad ) kalimat. Pola yang dianut adalah (predikat + subyek) =>Ubah pola menjadi (subyek + predikat)

 

Contoh:

 

ذهب الولد إلى المسجد

 

Arti leksikalnya:

 

ذهب : telah pergi

 

الولد : seorang anak

 

إلى : ke

 

المسجد : masjid

 

Jadi terjemahan leksikal kalimat diatas adalah “Telah pergi seorang anak ke masjid.”

 

 

  • telah pergi: Predikat

 

 

  • seorang anak: Subyek

 

 

Terjemahan bahasa indonesia setelah merubah polanya: “Seorang anak telah pergi ke masjid.”

 

 

  • seorang anak: Subyek
  • telah pergi: Predikat

 

 

Jenis kalimat termasuk jumlah ismiyyah

 

• i. Pola (Subyek + Predikat)

 

Terjemahkan perkata secara leksikal =>Tentukan subyek ( musnad ilaih ) dan predikat ( musnad ) kalimat. Pola yang dianut adalah (subyek + predikat). => Tambahkan penghubung itu , adalah atau merupakan sehingga polanya menjadi (subyek + itu / adalah / merupakan + predikat).

 

Contoh:

 

الكتاب جديد

 

Arti leksikalnya adalah:

 

الكتاب : buku

 

جديد : baru

 

Jadi terjemahan leksikalnya adalah “Buku baru”

 

 

  • buku: Subyek
  • baru: predikat

 

 

Terjemahan bahasa indonesia setelah menambahkan penghubung itu , adalah atau merupakan : “Buku itu baru “

 

 

  • buku: Subyek
  • tambahan itu
  • baru: predikat

 

 

• ii. Pola (Predikat + Subyek)

 

Terjemahkan perkata secara leksikal =>Tentukan subyek ( musnad ilaih ) dan predikat ( musnad ) kalimat. Pola yang dianut adalah (predikat + subyek). => Tambahkan penghubung ada atau adalah sehingga polanya menjadi (predikat + ada / adalah + subyek).

 

Contoh:

 

من اركان الإسلام الصلاة

 

Arti leksikalnya adalah:

 

من : termasuk / sebagian dari

 

اركان الإسلام : rukun rukun islam

 

الصلاة : Shalat

 

Jadi terjemahan leksikalnya adalah “Termasuk rukun rukun islam shalat.”

 

  • termasuk rukun rukun islam: Predikat
  • shalat: Subyek

 

 

Terjemahan bahasa indonesia setelah menambahkan penghubung ada atau adalah : “Termasuk rukun rukun islam adalah shalat”

 

  • termasuk rukun rukun islam: Predikat
  • tambahan penghubung ada atau adalah
  • shalat: Subyek

 

 

  1. Memahami pola pola tertentu yang meiliki peran tertentu dan makna tertentu sesuai peran itu.

 

    1. Maf’ul Muthlaq

 

Maf’ul muthlaq adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna sungguh sungguh atau seperti jika menunjukkan arti jenis.

 

Contoh:

 

فهمت الدرس فهمًا

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Saya memahami pelajaran suatu pemahaman

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Maf’ul muthlaq adalah “Saya sungguh sungguh memahami pelajaran”

 

سرت سير السحاب

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Saya berjalan jalan awan “

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Maf’ul muthlaq adalah “Saya berjalan seperti jalannya awan”

 

  1. Maf’ul Li Ajlihi

 

Maf’ul Li Ajlihi adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna untuk atau dalam rangka .

 

Contoh:

 

جئت هنا طلبًا للعلم

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Saya datang ke sini mencari untuk ilmu.”

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Maf’ul Li Ajlihi adalah “Saya datang ke sini dalam rangka mencari ilmu.”

 

  1. Zharaf Zaman

 

Zharaf Zaman adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna pada .

 

Contoh:

 

ذهبت الى الجامعة صباحًا و رجعت منها نهارًا

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Saya pergi ke universitas pagi dan kembali darinya(universitas) siang.”

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Zharaf Zaman adalah “Saya pergi ke universitas pada pagi hari dan kembali darinya(universitas) pada siang hari.”

 

    1. Zharaf Makan

 

Zharaf Makan adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna di .

 

Contoh:

 

المسجد أممَ البيت

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Masjid depan rumah.”

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Zharaf Makan adalah “Masjid itu di depan rumah.”

 

    1. Haal

 

Hal adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna dengan atau secara.

 

Contoh:

 

قرأت الكتاب جالسًا .

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Saya membaca buku duduk

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Haal adalah “Saya membaca buku secara duduk

 

    1. Na’at

 

Na’at adalah susunan kata dalam bahasa arab yang menunjukkan makna yang.

 

Contoh:

 

العقل السليمُ فى الجسم السليمُ

 

Terjemahan leksikalnya adalah: “Akal sehat didalam badan sehat

 

Terjemahan dengan memperhatikan bentuk Na’at adalah “Akal yang sehat itu didalam badan yang sehat

 

  1. Memperhatikan rujukan rujukan dhamir dan bentuk bentuk rujukannya seperti Mudzakkar , Mu’annats , Mufrod , Mutsanna , atau Jamak .

 

Maraji’:

 

Haris, Abdul. 2003. Cara Mudah Membaca & Memahami Teks-teks Bahasa Arab (Sistem 12 jam) . Malang: Bayumedia Publishing.

 

(Ditulis oleh Abu Ahmad Abdul ‘Alim Ricki Kurniawan Al Mutafaqqih)
Selesai penulisan
Malang. Sabtu, 27 Januari 2007 

 

Oleh: and1wijaya | Agustus 27, 2012

mizar(minyak zaitun ruqyah)

Anda mencari SOLUSI ?
Saudara anda, teman anda atau bahkan anda sendiri terkena sihir,gangguan jiwa penyakit  ‘ain guna-guna dll?
atau menderita sakit yang tak kunjung sembuh?

JANGAN ANGGAP SEPELE MASALAH ANDA DAN JANGAN COBA-COBA PERGI KE DUKUN..!!!!SEGERA ATASI DENGAN MENEMPUH JALUR SYAR’I..!!

Kini telah hadir minyak zaitun ruqyah(MIZAR)
terbuat dari minyak zaitunpilihan dan telah diruqyah oleh para praktisi ruqyah syari’yah,sangat diharapkan dapat mengobati berbagai macam penyakit medis/nonmedis atas izin allah swt

Dapatkan  “‘MIZAR”

Sekarang juga…!!!!!!!

untuk pemesanan hubungi:
telp: 081218488027

Oleh: and1wijaya | Desember 22, 2009

Berhala Abad 21

Yang menarik adalah, penolakan mereka terhadap ajaran Tauhid para Nabi itu bukan karena mereka tidak faham, melainkan karena ketakutan atas kehilangan kekuasaan

Sekitar 4.000 tahun lalu, ketika Nabi Ibrahim prihatin melihat penguasa dan masyarakatnya yang tak kunjung mengerti kesesatan jalan hidup yang ditimbulkan berhala-berhala yang disembah mereka selain Allah Ta’ala. Baca Lanjutannya…

Oleh: and1wijaya | Desember 22, 2009

pohon ghorgod

assalamu’alaykum wr.wb

saya mau tanya,yang dimaksud pohon “ghorqod” (pohonnya orang yahudi) itu semacam/sejenis pohon apa?di negara kita ada atau tidak,jangan-jangan tanpa kesengajaan kita,kita juga malah ikut menanamnya.syukron katsiroo..

wassalamu’alaykum wr.wb Baca Lanjutannya…

Oleh: and1wijaya | Desember 22, 2009

allah melindungi tanah suci(gaza)

Kami semakin mantap untuk mengunjungi Gaza setelah mendengar adanya cerita tentang seorang ulama besar di Mekkah yang bermimpi Rasulullah dalam keadaan marah, mengenakan pakaian untuk bersiap-siap ke Gaza. Mimpi itu menguatkan kami, bahwa perjalanan membantu rakyat Gaza merupakan satu hal yang diinginkan oleh Rasulullah. Tim Baznas RI Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori