Oleh: and1wijaya | Desember 1, 2009

[M3B] Sejarah Ringkas Perang Jamal dan Perang Shiffin


Sejarah Ringkas Perang Jamal dan Perang Shiffin;

Suatu Strategi Munafiquun Memecah belah Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Ketika terjadi fitnah pada pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra., Abdulah
bin Saba’ dan kaumnya mendatangi Ali bin Abi Thalib ra. dan kemudian
memprovokasinya untuk menggantikan Utsman bin Affan ra.  Namun Ali bin Abi
Thalib ra. menolak provokasi tersebut bahkan kemudian membunuh sebagian
pengikut Abdullah bin Saba’ namun Abdullah bin Saba’ sendiri berhasil melarikan
ke Mesir.

Ketika berada di Mesir dia bertemu dengan beberapa kaum munafiquun untuk
merencanakan suatu makar yang hebat.  Kemudian dengan pengaruhnya, Abdullah bin
Saba’ berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan ra
di Madinah. sehingga beberapa orang kaum muslimin terpengaruh oleh cerita yang
disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ tersebut.

Setelah dirasakan banyak kaum muslimin yang terpengaruh olehnya maka Abdullah
bin Saba’ berangkat ke madinah beserta rombongannya menuju Madinah.
Sesampainya Madinah Abdullah bin Saba’ dan rombongannya membuat fitnah yang
besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan. 

Saking hebatnya fitnah itu karena juga disebarkan oleh rombongan Abdullah bin
Saba’ yang besar jumlahnya maka sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum
terpengaruh oleh ucapan kaum munafiquun tersebut sampai – sampai putra Khalifah
pertama yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Khalifah Utsman
bin Affan ra. dengan marah dan menarik jenggotnya.

Dan pada puncaknya kaum munafiquun dan sebagian kaum muslimin yang baik yang
terprovokasi oleh ucapan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya mengepung rumah
Utsman bin Affan ra. kemudian membunuhnya.

Setelah meninggalnya Utsman bin Affan ra. maka kaum munafiquun dan sebagian
sahabat serta kaum muslimin yang lain membai’at Ali bin Abi Thalib ra. sebagai
Khalifah berikut.  Kemudian munculah fitnah yang menyebabkan sahabat terpecah
belah yaitu tentang hukuman bagi para pembunuh Utsman bin Affan ra.

Sahabat radhiyallahu’anhum terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Ali bin Abi
Thalib ra. dan kubu ‘Aisyah ra., Mu’awiyyah ra., Thalhah ra., Zubair ra dan
lainnya. Kubu ‘Aisyah ra dan sahabat lainnya menuntut disegerakannya hukuman
qishas bagi pembunuh Utsman bin Affan ra.  Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib
ra. menundanya karena 2 ijtihad, pertama negara dalam keadaan kacau sehingga
perlu ditertibkan dahulu dan yang kedua pembunuh Utsman bin Affan ra. sebagian
adalah munafiquun dan sebagian lagi kaum muslimin yang baik yang termakan
provokasi, maka Ali bin Abi Thalib ra. membutuhkan kepastiannya.

Namun ‘Aisyiah ra., Thalhah ra., Zubair ra., dan sahabat nabi yang lain tetap
pada ijtihadnya yaitu menuntut Ali bin Abi Thalib ra untuk menyegerakan hukuman
qishas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra.

Akhirnya setelah masing – masing sahabat Nabi tersebut membawa pasukan dan siap
untuk berperang, lalu kemudian Ali bin Abi Thalib ra. sepakat dengan pihak
‘Aisyah ra. dan menyetujui untuk menyegerakan hukuman qishas terhadap para
pembunuh Utsman bin Affan ra.  Rupanya kesepakatan Ali dengan kubu ‘Aisyah ra.
membuat gerah kaum munafiquun yang dipimpin oleh Abdullah bi Saba’

Pada malam harinya (Perang Jamal berlangsung pada malam hari) kaum munafiquun
menyusup ke barisan sahabat Thalhah ra. dan Zubair ra. dan melakukan
penyerangan mendadak.  Karena merasa diserang maka kubu Thalhah ra. dan Zubair
ra. balas menyerang ke pasukan Ali bin Abi Thalib ra dan perang besar pun tak
terhindarkan.  Perang ini disebut Perang Jamal dan berakhir dengan kemenangan
Ali bin Abi Thalib ra. dan meninggalnya 2 orang sahabat yang dijamin masuk
surga yaitu Thalhah ra. dan Zubair ra.

Sahabat Mu’awiyyah ra. yang pada waktu itu masih menjadi Gubernur di Damaskus
menggerakan pasukannya menuju Madinah dengan tuntutan yang sama yaitu
menyegerakan mengqishas pembunuh Utsman bin Affan ra.  

Karena keadaan yang semakin kacau Ali bin Abi Thalib ra. tidak dapat memenuhi
tuntutan tersebut lalu terjadilah perang yang berikutnya yang dikenal dengan
nama Perang Shiffin yang berakhir dengan gencatan senjata meskipun pada waktu
itu Ali bin Abi Thalib ra. hampir memenangkan pertempuran tersebut.  Lalu
Mu’awiyyah ra. kembali ke Damaskus dan tetap menolak membaiat Ali bin Abi
Thalib ra. sebagai Khalifah (Lalu sebagian kaum muslimin membai’at Muawiyyah
ra. sebagai Amirul Mukminin)

Dan pada itu negara Islam terbagi 2 yaitu Ali bin Abi Thalib ra di Madinah dan
Mua’wiyyah ra. di Damaskus.  Pada kondisi tersebut ada sebagian kecil kaum
muslimin yang tidak puas kepada keduanya, dan kaum muslimin yang tidak puas
kepada Ali ra. dan Mu’awiyyah ra. mereka membentuk firqah baru (inilah firqah
pertama dalam Islam, disusul Syiah, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah,
Qadariyyah, Jabariyyah dan lain sebagainya) yang disebut sebagai Khawarij dan
mereka mengkafirkan kedua sahabat nabi tersebut.

Lalu kaum Khawarij mengutus pembunuh kepada keduanya, namun qadarullah hanya
Ali bin Abi Thalib ra yang terbunuh, sedangkan percobaan pembunuhan terhadap
Mu’awiyyah ra. dapat digagalkan.

Selesai

Banyak hikmah yang dapat dipetik, namun salah satu hikmah yang dapat dipetik
dari peristiwa tersebut adalah dilarang untuk memprovokasi, menghujat dan
memfitnah penguasa muslim secara terang – terangan sehingga banyak orang yang
tanpa memeriksa dahulu kebenaran yang ada, termakan dengan provokasi, hujatan
dan celaan yang kesemuanya itu akan berakibat pada kekacauan dan kehancuran.  

Maka dari itu Rasulullah SAW pernah bersabda (dari sahabat Iyadh bin Ghunaim
ra.),”Barang siapa hendak menasehati penguasa maka janganlah secara terang –
terangan, melainkan ambil tangannya dan berdua dengannya.  Apabila ia
menerimanya maka itu adalah untukmu, kecuali apabila ia enggan maka apa yang
ada padanya adalah baginya sendiri” (HR Ahmad, hadits hasan) dan pada hadits
yang lain Rasulullah juga bersabda;

Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah ra dari Nabi SAW
beliau bersabda, ”Sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa penguasa dan
kalian akan mengetahui kemunkarannya.  Maka siapa saja yang benci bebaslah ia,
dan siapa saja yang mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang
senang dan mengikutinya maka tersesatlah ia” Para sahabat bertanya, “Apakah
tidak sebaiknya kita memerangi mereka ?” Beliau bersabda, “Jangan ! Selama
mereka masih mengerjakan shalat bersamamu” (HR. Muslim) 

Maka dari itu Usamah bin Zaid ra. ketika menasehati Khalifah Islam Utsman bin
Affan dilakukannya dengan secara diam – diam sebagaimana atsar sahabat berikut
ini :

Dari Ubaidilah bin Khiyar berkata, “Aku mendatangi Usamah bin Zaid ra. dan aku
katakana kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak menasehati Utsman bin Affan untuk
menegakan hukum had atas Al Walid ?’.  Maka Usamah bin Zaid ra. menjawab,
‘Apakah kamu mengira aku tidak menasehatinya kecuali harus dihadapanmu ? demi
Allah, sungguh aku telah menasehatinya secara sembunyi – sembunyi antara aku
dan ia saja.  Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah
orang yang pertama kali membukanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana dengan demonstrasi – demonstrasi yang marak dilakukan terhadap
pemerintah yang penuh dengan provokasi, hujatan dan celaan !?

Semoga bermanfaat
About these ads

Responses

  1. nunpang lewat..

  2. mohon copy paste ye

  3. thanks tulisannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: